LAD Kaltara dan Polda Kaltara Tegaskan Komitmen Jaga Kamtibmas dan Persatuan

Sabtu, 15 Agustus 2026 12:11 WITA
Kapolda saat bersilaturahmi bersama lembaga adat Kaltara

Suarakaltara.com, TANJUNG SELOR – Penguatan komunikasi antara kepolisian dan lembaga adat kembali ditegaskan sebagai langkah strategis menjaga keamanan dan persatuan di Kaltara.

Kolaborasi kedua unsur tersebut dinilai penting untuk mencegah potensi konflik sekaligus memastikan berbagai persoalan sosial dapat diselesaikan secara cepat dan bermartabat.

Komitmen itu mengemuka dalam kunjungan silaturahmi Kapolda Kalimantan Utara bersama jajaran pejabat utama Polda Kaltara kepada Ketua Umum Lembaga Adat Dayak (LAD) Kaltara, Drs. Henoch Merang, di kediamannya, Sabtu (15/8/2026).

Kapolda Kaltara hadir didampingi Wakapolda, Irwasda, Karoops, Karo SDM, Dirintelkam, Dirlantas dan Dirbinmas Polda Kaltara. Kehadiran jajaran tersebut memperlihatkan keseriusan kepolisian membangun komunikasi langsung dengan kekuatan sosial dan adat yang memiliki kedekatan dengan masyarakat.

Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kapolda sekaligus memperkenalkan diri sebagai pejabat baru di lingkungan Polda Kaltara dan menyampaikan maksud kedatangannya untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan para tokoh adat.

“Sebagai pejabat baru, kami datang untuk bersilaturahmi sekaligus meminta izin kepada para tokoh adat. Kami ingin menjadi bagian dari masyarakat Kalimantan Utara dan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Kapolda.

Menurutnya, menjaga keamanan daerah membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Kepolisian tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh kuat di lingkungan sosial.

Kapolda menilai lembaga adat memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan sosial. Karena itu, setiap masukan dari tokoh adat akan menjadi bagian dari bahan evaluasi kepolisian dalam menjalankan tugas di lapangan.

“Kami ingin membangun komunikasi yang terbuka. Silakan sampaikan masukan, kritik maupun saran kepada kami. Apa yang menjadi persoalan masyarakat harus diketahui sehingga bisa kita antisipasi bersama sebelum berkembang menjadi gangguan kamtibmas,” tegasnya.

Ia menambahkan, pendekatan pencegahan harus dikedepankan dalam menjaga stabilitas keamanan. Potensi konflik sosial, gesekan antarwarga maupun persoalan lain harus ditangani sedini mungkin dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat.

“Kamtibmas bukan hanya persoalan penegakan hukum. Ada persoalan sosial, budaya dan kemasyarakatan yang harus kita pahami. Di sinilah pentingnya peran tokoh adat sebagai mitra kepolisian,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Kapolda juga menegaskan komitmennya untuk membangun Polda Kaltara yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Pelayanan kepolisian, menurutnya, harus hadir dengan pendekatan yang humanis sekaligus tegas ketika menghadapi persoalan hukum.

“Polisi harus hadir di tengah masyarakat. Kita ingin masyarakat merasa aman, terlindungi dan memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan. Tetapi ketika hukum harus ditegakkan, tentu harus dilakukan secara tegas dan profesional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum LAD Kaltara Drs. Henoch Merang menyambut baik kunjungan tersebut.

Ia menilai silaturahmi antara Kapolda dengan lembaga adat menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali hubungan yang telah terjalin sejak awal keberadaan Polda Kaltara.

“Hubungan LAD Kaltara dengan Polda sudah memiliki sejarah yang panjang. Karena itu, kami menyambut baik kehadiran Kapolda beserta jajaran. Ini menunjukkan bahwa lembaga adat tetap dipandang sebagai bagian penting dalam membangun daerah,” ujar Henoch.

Henoch menegaskan LAD Kaltara siap mengambil bagian dalam menjaga stabilitas keamanan.

Menurutnya, masyarakat adat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keharmonisan dan mencegah munculnya persoalan yang dapat mengganggu persatuan.

“Lembaga adat tidak boleh hanya hadir ketika ada persoalan. Kami harus ikut mencegah persoalan itu terjadi. Kalau ada gejala yang berpotensi menimbulkan konflik, komunikasi harus segera dibangun dan dicari jalan keluarnya bersama,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberagaman budaya Dayak di Kaltara sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan masyarakat.

Keberadaan berbagai subrumpun dan tradisi adat harus ditempatkan sebagai kekayaan daerah, bukan sumber perbedaan.

“Perbedaan subrumpun, budaya dan tradisi jangan menjadi alasan untuk terpecah. Justru keberagaman itu harus menjadi kekuatan untuk membangun Kalimantan Utara. Adat mengajarkan kita menghormati sesama, menjaga keseimbangan dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah,” tegas Henoch.

Dalam kesempatan tersebut, jajaran LAD Kaltara juga memperkenalkan sejumlah pengurus serta menjelaskan keberagaman subrumpun dan kekayaan budaya Dayak yang berkembang di Bumi Benuanta – sebutan lain Kaltara.

Sebagai simbol penghormatan dan penerimaan, Ketua LAD Kaltara menyerahkan cinderamata kepada Kapolda Kaltara berupa rompi adat, kalung, kopiah dan mandau.

Pemberian tersebut sekaligus menjadi simbol eratnya hubungan antara kepolisian dan lembaga adat.
Henoch berharap komunikasi yang telah dibangun tidak berhenti pada agenda seremonial.

Ia menginginkan adanya kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan dalam menjaga keamanan, menyelesaikan persoalan sosial serta memperkuat persatuan masyarakat.

“Yang paling penting setelah pertemuan ini adalah tindak lanjutnya. Kami siap menjadi mitra Polda Kaltara. Kalau komunikasi terus berjalan, persoalan bisa lebih cepat diketahui dan diselesaikan. LAD Kaltara siap bersama Polda menjaga keamanan, menjaga keharmonisan dan menjaga persatuan masyarakat. Kami ingin Kalimantan Utara tetap aman, damai dan tidak mudah dipecah oleh persoalan apa pun,” pungkas Henoch Merang. (red/sk)

Bagikan
Berita Terkait